extensi .swf belum bisa ke upload..

Yth, pak robin,

pak, mhn maaf sebelumnya, sy coba meng-upload hsl kerja sy perihal tugas TIK yang mendisain Frame (.swf), ttp kok extension tsb (.swf) tdk terbaca di komputer pd saat select file. tp file ada di komputer. sederhananya, file .swf hasil kerja blm bisa ke upload nih pa.. tp sy akan coba terus deh sampe bisa. mhn doanya pak robin… tksie..–samadi PKLH 2010

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEBERLANJUTAN EKOSISTEM BADUY

Keberlanjutan ekosistem Baduy yang terdiri dari ekosistem alam dan sistem sosial budaya tergantung dari beberapa faktor. Faktor tersebut  bersifat eksternal, apabila datang dari luar komunitas, dan internal apabila berasal dari dalam komunitas. Pada kasus Baduy, gangguan yang merupakan faktor eksternal antara lain adalah ancaman terhadap kelestarian hutan. Luas hutan alam yang merupakan leuweng kolot terus berkurang. Ancaman tersebut dilakukan oleh penduduk luar Baduy.

Menurut Jaro Dainah, seorang jaro pamarentah yang tinggal di Kampung Kadu Ketuk, gangguan dari penduduk luar berupa penebangan hutan, penyerobotan tanah, dan pengambilan ikan di sungai dengan mempergunakan racun.

Dan dengan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Hak Ulayat Masyarakat Baduy, diharapkan akan terdapat kepastian hukum dan perlindungan terhadap wilayah tersebut. Dengan demikian, kelestarian tradisi Baduy, dan kelestarian hutan dan alam secara keseluruhan masih dapat dipertahankan. Namun demikian, gangguan sedikit banyak masih terus terjadi pula, seperti penerbitan sertifikat yang terjadi di Desa Kebon Cau, Kecamatan Bojongmanik atas tanah seluas  8.938 meter persegi oleh Kepala Desa setempat (Sinar Harapan, 24 Juli  2002).

Adapun faktor internal yang mengancam kelestarian lingkungan Baduy antara lain adalah pertumbuhan penduduk Baduy yang relatif pesat. Sebagaimana pada data pertambahan jumlah penduduk dari beberapa tahun, pertambahan penduduk adalah sekitar 3,7% per tahun (J. Iskandar, 1991).

Pertambahan penduduk yang pesat tersebut menyebabkan kebutuhan akan sumberdaya alam terus meningkat pula. Sehubungan keberadaan sumberdaya alam seperti lahan pertanian relatif tetap, sedangkan pengusahaan dilakukan terus menerus, maka akan terjadi penurunan kualitas yang terus menerus. Dengan demikian batas daya dukung lingkungan di wilayah Baduy tampaknya akan segera terlampaui.

Tanda tersebut antara lain tampak pada jarak waktu penanaman huma atau masa bera yang semakin pendek. Pada waktu yang lampau, bekas ladang yang telah diusahakan akan dibiarkan kembali menjadi semak belukar dan baru akan dibuka dan ditanami kembali setelah 7 sampai 10 tahun. Pada keadaan sekarang, masa bera tersebut menjadi berkurang sehingga 3 sampai 5 tahun. Dengan masa bera yang pendek tersebut, alam belum sempat memperbaiki diri dan mengembalikan kesuburan tanah. Karena praktek tersebut terjadi berulang-ulang, maka terjadi penurunan kesuburan yang signifikan terhadap perladangan di wilayah Baduy.

Faktor internal lain yang berpengaruh adalah cara pertanian tradisional Baduy yang hampir tanpa pemupukan, kecuali abu. Tanpa adanya pemeliharaan terhadap kesuburan tanah seperti pemberian pupuk, dibutuhkan waktu yang relatif lama bagi tanah untuk mengembalikan kesuburan alaminya. Dalam kasus praktek ladang berpindah, maka masa bera atau istirahat bagi lahan akan relatif lama. Untuk perladangan berpindah di wilayah tropika, maka masa bera yang ideal tergantung pada jenis tanah dan kandungan bahan organik tanah, dan berbeda-beda untuk setiap wilayah.

Apabila masa bera yang diberikan oleh petani Baduy pada ladang mereka adalah 24 tahun, atau sedikit lebih cepat mengingat adanya pemupukan dari abu bekas bakaran ranting dan daun, maka pola pertanian tersebut akan bersifat berkelanjutan. Hal tersebut tentunya sangat sukar dilaksanakan oleh masyarakat Baduy pada saat sekarang mengingat jumlah penduduk dan luas lahan yang tersedia. Sedangkan lama waktu masa bera yang mungkin terjadi untuk keadaan sekarang akan berdampak pada penurunan kesuburan secara terus menerus.

Penurunan kualitas lahan yang berupa kesuburan tersebut tentunya berdampak pada penurunan hasil panen dari tahun ke tahun. Hal tersebut diakui oleh penduduk Baduy Dalam seperti Narja dan Anas yang berladang di sekitar Kampung Cibeo (Samadi, 2004). Jika dahulu padi hasil ladang mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi semua keluarga secara subsisten maka sekarang ini padi hasil ladang mereka hanya digunakan untuk keperluan adat seperti pada bulan-bulan Kawalu. Sedangkan untuk makanan sehari-hari mereka membeli beras dari perkampungan luar Baduy. Dengan kata lain, pada masa sekarang ini mereka sudah tidak hidup secara subsisten lagi.

Penurunan sumberdaya alam dan kualitas lingkungan di wilayah Baduy tersebut dibuktikan menurut studi simulasi permodelan lingkungan yang dilakukan oleh J. Iskandar (1991). Berdasarkan data kependudukan dan hasil bumi tahun 1985/1986, di wilayah Baduy diduga terjadi penurunan penduduk secara cepat setelah 27 tahun karena persediaan makanan yang menurun. Ketersediaan makanan akan menurun setelah 20 tahun dan output per hektar lahan akan menurun sebesar 10% setiap 4 tahun. Dalam jangka waktu 50 tahun, jumlah populasi akan mencapai nol. Hal tersebut berarti kepunahan Masyarakat Baduy pada tahun 2035.

Selanjutnya perhitungan simulasi tersebut juga menunjukkan bahwa apabila eksistensi Baduy masih akan dipertahankan maka kelestarian hutan harus dipertahankan, perladangan berpindah dibatasi tempatnya sehingga tidak merambah sisa hutan yang ada, terjadi peningkatan kesuburan tanah dengan perbaikan sistem bertani, dan memperkecil laju kelahiran dari 3,7% per tahun menjadi 2,0%. Dengan demikian, persediaan makanan akan bertambah lagi dan setelah 50 tahun Masyarakat Baduy masih akan eksis (J. Iskandar, 1991).

Dengan pola yang ada maka ekosistem Baduy tidak bersifat berkelanjutan kecuali terjadi perubahan dan adaptasi dari sistem sosial mereka. Mengingat  adat istiadat yang bersifat ‘bertahan dari segala perubahan’ atau sedapat mungkin menolak perubahan maka keadaan tersebut menjadi kritis bagi eksistensi Baduy.

Namun demikian secara alami segala sesuatu, termasuk kebudayaan masyarakat Baduy tentu akan mengalami perubahan. Terdapat pula berbagai bukti mengenai terjadinya perubahan tersebut. Menurut penuturan Jasrip (Samadi, 2000), pada jaman dahulu orang luar dilarang masuk ke wilayah Baduy Dalam, namun pada saat sekarang ini Kampung Cibeo yang berada di wilayah Baduy Dalam telah terbiasa menerima kunjungan tamu dari luar Baduy dalam jumlah ratusan orang. Contoh lain adalah penggunaan barang plastik yang dahulunya terlarang sama sekali bagi orang Baduy Dalam, pada saat ini ditolerir penggunaannya bagi orang Baduy Dalam apabila sedang bepergian ke luar wilayah Baduy. Dalam perjalanan mereka ke kota maka sangat umum bagi warga Cibeo untuk menggunakan botol plastik bekas air minum kemasan untuk botol air minum mereka, dan lembaran plastik lebar juga mereka gunakan sebagai ‘jas hujan’ apabila hari hujan.

Terjadinya perubahan secara alami terhadap adat tersebut memberi harapan positif atas bertahannya kebudayaan Baduy. Perubahan dalam adat dan tabu melalui musyawarah para pimpinan adat Baduy dilaksanakan dengan sangat selektif. Kemungkinan tersebut membawa kepada harapan bahwa cara pertanian pun akan dapat mengalami perubahan. Perubahan praktek pertanian yang sebaiknya ‘ramah lingkungan’ antara lain dapat berupa pemberian pupuk organik atau pupuk alami pada lahan pertanian, dan penerapan sistem agroforestry atau pertanian campuran antara tanaman pangan dan tanaman tahunan secara sinergis, yang bersifat mengkonservasi lahan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment